foto1
foto1
foto1
foto1
foto1



PENCANANGAN KAMPUNG KB DORONG KEGIATAN SEKTORAL LAINNYA

Walikota Probolinggo Hj. Rukmini, SH. M.Si. bersama perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur mendorong masyarakat untuk menjadikan Kampung KB sebagai indikator keberhasilan suatu daerah dan dapat menjadi miniatur pelaksanaan KB sesungguhnya. Dukungan tersebut dibuktikan dengan pencanangan Kampung KB yang diresmikan oleh Walikota Probolinggo di Kelurahan Pakistaji Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. (Kamis, 13/07/2017)

 

Melalui pencanangan Kampung KB tersebut, program KB pada nantinya diharapkan dapat menggema kembali dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat terutama yang berada di wilayah terpencil.

 

Dalam sambutannya, Drs. Karnadi Sigit, M.Kes. (Perwakilan BKKBN Propinsi Jawa Timur) menjelaskan, adanya kampung KB ini bisa menjadi stimulus atau menjadi rangsangan untuk pengembangan program KB berikutnya. Hanya saja program KB yang diharapkan itu tidak saja notabene melayani KB saja, tetapi dapat mendorong kegiatan sektoral lainnya. Artinya, dengan adanya kampung KB itu nantinya dapat mendorong partisipasi dari berbagai instansi untuk bersama-sama memberikan pelayanan di Kampung KB ini, bukan hanya pelayanan yang bersifat fisik melainkan juga pelayanan yang non fisik, seperti bagaimana balita yang belum mempunyai akte kelahiran dapat dengan mudah memiiki akte kelahiran, bagaimana mengembalikan anak-anak kita yang putus sekolah supaya bersekolah lagi, bagaimana meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang kesehatan dan perawatan kehamilan, deteksi dini kanker.

 

Dijelaskan, secara global pembangunan kependudukan di Jawa Timur sudah cukup baik, Total Fertlity Rate atau angka ibu melahirkan rata-rata sudah mencapai kurang lebih 1,9 persen, artinya rata-rata ibu di jawa timur mempunyai anak kurang dari 2, sehingga akan memunculkan 2 kemungkinan :  (pertama) MMR (maternal mortality rate) dengan kata lain seorang ibu digantikan oleh seorang anak wanitanya di jawa timur berbanding 1:1; (kedua) dengan adanya penuruan TFR ini diharapkan beberapa tahun kemudian grafik kependudukan di Jawa Timur akan mengerucut ke bawah. Jika hal ini dapat dipertahankan maka kondisi kependuduka di Jawa Timur akan dikatakan stabil.

 

Lebih jauh Walikota Probolinggo, Hj. Rukmini, SH. M.Si. juga mengajak masyarakat turut memajukan UP2K, UP2KA, P3EL (Pemberdayaan Perempuan Pengembang Ekonomi Lokal), termasuk koperasi untuk memberikan dana bergulir berupa modal usaha bagi para akseptor KB, tentunya harus ada pendampingan dari kader dan PKB (Penyuluh Keluarga Berencana), sehingga peserta KB yang tergabung dalam kelompok ekonomi produktif dapat memajukan perekonomiannya sendiri yang nantinya akan berpengaruh terhadap perekonomian Kota Probolinggo pada khususnya dan perekonomian nasional pada umumnya. (ubay)